Dilanjutkan Fidel, KDM sering dipanggil oleh rakyat yang bersimpati padanya sebagai Bapak Aing. Di sisi lain, KDM selalu mengedepankan adab dan budaya Sunda sebagai spirit kepemimpinannya.
“Maka pertanyaan selanjutnya adalah, apakah tindakan KDM memecat seorang Kepala Sekolah hanya beberapa saat setelah dirinya dilantik, telah mencerminkan sikap seorang Bapak dan mencerminkan spirit Sunda yang silih asih, silih asah dan silih asuh??? Jika saya yang diminta menilai maka saya akan terus terang mengatakan bahwa tidak ada spirit kebapakan dan spirit kesundaan dalam tindakan KDM tersebut,” tandasnya.
Fidel menilai, tindakan KDM tersebut lebih mencerminkan sikap kaisar otoriter jaman kegelapan yang mengeksekusi pelanggaran dan pembangkangan di hadapan publik, yang dalam konteks hari ini tidak dilakukan di di lapangan terbuka melainkan di media sosial yang jangkauan pertontonannya lebih luas dan massif.
“Bagi si terhukum atau penerima sanksi, pemberian sanksi ini adalah pameran penjatuhan martabat di hadapan publik, bukan sekedar penerimaan konsekuensi pertanggungjawaban. Dimana sikap kebapakan dan spirit silih asih, silih asah dan silih asuh kalau cara penjatuhan sanksi nya seperti ini?,” kata Fidel mempertanyakan.
Lebih jauh dipaparkannya, bahwa publik memang sangat mudah teriring untuk mendukung keterbukaan, termasuk dalam cara KDM membongkar tradisi jahat dan maling yang telah jadi penyakit kronis di tubuh birokrasi pemerintahan kita. Menurutnya, publik terhipnosis dengan langkah terbuka KDM mengevaluasi skema penganggaran yang mubazir seperti anggaran ganti kabel dan bohlam di mata anggaran Disdik Provinsi Jabar. Namun, lanjut Fidel dibalik euphoria dukungan publik itu jangan sampai mendistorsi semangat kerja dan pengabdian.